Malam itu, Jakarta gelap sama halnya dengan tempat lain di malam hari. Untung saja lampu - lampu di gedung - gedung tinggi dan di jalan sedikit memberikan terang bagi suasana Jakarta.
Tak seperti biasanya, malam itu aku berdiri di pinggir sebuah jalan besar di Jakarta, mengamati lalu lalang kendaraan bermotor. Ya, malam itu memang bukan malam biasa, biasanya, bila lampu telah dinyalakan, tentu aku sudah nyaman di kamar kosku menatap layar monitor TM2310 memainkan entah luxor, FM2007 atau untuk menatapi lagi hasil kerja tadi pagi, kalaupun bosan, itu saatnya aku menonton televisi hadiah dari kantorku waktu acara juni lalu, atau menikmati buku-buku yang belum terbaca juga, fhewww.
Ya, malam itu aku malah berdiri di pinggir jalan besar kota Jakarta, mengamati lalu lintas? kalau itu yang kulakukan, berarti aku memang sudah gila, lalu lintas malam sudah cukup kunikmati di kota ku Semarang, dan lagi lalu lintas malam Jakarta, sama saja polusinya dengan lalu lintas Jakarta di siang hari.
Lalu…buat apa aku berdiri di situ….
Aku berdiri di pinggir jalan besar kota Jakarta karena aku terpesona, menatap makhluk indah ciptaan Sang Khalik, menerbangkan sukma dan ragaku dan melemparnya entah ke negeri mana, aku tak tahu, bahkan mungkin aku terhipnotis oleh tatapannya, tersihir oleh tutur katanya
Menatap paras ayunya, melihat ekspresinya memang membuatku melayang lagi, rasa yang sepuluh tahun lalu kurasakan juga, kini datang kembali, mengantarkan de javu.
Sihirnya memang begitu kuat, membuat otakku beku dan kosong, sehingga lupa jika aku dan dia berdiri di pinggir yang salah. Seharusnya di seberang jalanlah kau dan aku harus berdiri, jika ingin menuju ke istana sang tuan putri, dimana kau seharusnya berada malam ini.
Ingin kutemani tuan putri menuju istana, menjaganya di perjalanan malam ini, menikmati pesona terlarang ini, kau tak mau
"Aku adalah seorang ksatria, meskipun aku seorang putri" titah imajiner itu muncul dalam benakku,
Bahkan…
Terbersit selintas, dalam lambaian dan ekspresimu:"menjauhlah dariku, aku tak mau kau di dekatku lagi, aku ini seorang tuan putri"
Tuan putri berjalan dalam kereta kencana, menyusuri gelap Jakarta, aku terdiam merasakan pesona yang tersisa dan segera kembali ke alam nyata, menjalani hidup seperti biasanya lagi,
- pesona tuan putri terpatri dalam hati dan pikir-